Warning


SELAMAT DATANG CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEDUA
PESANTREN MBS CILACAP

Kamis, 27 November 2014

Peran Guri PAI dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa



Pendidikan adalah proses secara sadar dalam membentuk anak didik untuk mencapai perkembangannya menuju kedewasaan jasmani maupun rohani, dan proses ini merupakan usaha pendidik membimbing anak didik dalam arti khusus misalnya memberikan dorongan atau motivasi dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.

Menurut Mc Donald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik, 2007: 173). Oleh karena itu, motivasi merupakan salah satu faktor penunjang dalam menentukan intensitas usaha untuk belajar dan juga dapat dipandang sebagai suatu usaha yang membawa anak didik ke arah pengalaman belajar sehingga dapat menimbulkan tenaga dan aktivitas siswa serta memusatkan perhatian siswa pada suatu waktu tertentu untuk mencapai suatu tujuan.

Motivasi bukan saja menggerakkan tingkah laku tetapi juga dapat mengarahkan dan memperkuat tingkah laku. Hal ini dikarenakan siswa yang mempunyai motivasi dalam pembelajarannya akan menunjukkan minat, semangat dan ketekunan yang tinggi dalam belajarnya, tanpa banyak bergantung kepada guru. Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi, semakin tepat motivasi yang diberikan, maka akan semakin berhasil pula pelajarannya.

Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non intelektual. Peranannya yang khas yaitu dalam hal menumbuhkan gairah dalam belajar, merasa senang dan mempunyai semangat untuk belajar sehingga proses belajar mengajar dapat berhasil secara optimal (Sardiman, 2001: 73). Dengan demikian, guru yang dapat memberikan motivasi kepada siswa menurut Yamin berarti telah memberdayakan afeksi mereka supaya dapat melakukan sesuatu melalui penguatan langsung, penguatan pengganti,dan pengutan diri sendiri (Yamin, 2006: 177).

Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik adalah motivasi yang tercakup di dalam situasi belajar untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan-tujuan murid. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar seperti ijazah, hadiah maupun hukuman (Hamalik, 2007: 162-163). Dengan kata lain, motivasi intrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri siswa yang berguna dalam situasi belajar fungsional. Sementara motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang menghendaki lingkungan yang kondusif dan proses pembelajaran yang menarik. Menurut Uno (2007: 23), munculnya kedua motivasi tersebut sesungguhnya berkenaan dengan rangsangan yang membuat seseorang berkeinginan untuk melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan bersemangat.

Mengingat betapa pentingnya faktor intrinsik dan ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa, maka pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam di sekolah perlu diupayakan bagaimana agar dapat mempengaruhi dan menimbulkan motivasi intrinsik melalui penataan metode pembelajaran yang dapat mendorong tumbuhnya motivasi ekstrinsik dan dapat mendorong tumbuhnya motivasi belajar dalam diri siswa. Sedangkan untuk menumbuhkan motivasi ekstrinsik dapat diciptakan suasana lingkungan yang religius sehingga tumbuh motivasi untuk mencapai tujuan PAI sebagaimana yang telah ditetapkan (Muhaimin, 2001: 138). Dengan kata lain, seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus tanpa motivasi dari luar dirinya merupakan motivasi intrinsik yang sangat penting dalam aktivitas belajar. Namun, seseorang yang tidak mempunyai keinginan untuk belajar, dorongan dari luar dirinya merupakan motivasi ekstrinsik yang diharapkan. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik diperlukan bila motivasi intrinsik tidak ada dalam diri seseorang sebagai subjek belajar.

Motivasi sebagai suatu proses yang mengantarkan anak didik kepada pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar, maka proses motivasi menurut Ramayulis (1998: 171-172) mempunyai fungsi:
1. Memberi semangat dan mengaktifkan siswa agar tetap berminat dan siaga.
2. Memusatkan perhatian kepada anak didik pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan penciptaan dengan pencapaian belajar.
3. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan jangka panjang.

Memperhatikan fungsi motivasi yang sangat besar faedahnya bagi siswa dalam proses pembelajaran, maka jelas fungsi guru agama sebagai motivator sangat dibutuhkan terlebih jika dikaitkan dengan proses pembelajaran yang terjadi di sekolah umum khususnya di mana waktu yang digunakan adalah sangat terbatas, yaitu 2 X 45 menit dalam seminggu. Hal ini menjadi kendala dan problem dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pendidikan agama Islam. Problem lain yang terjadi bahwa siswa cenderung kurang berminat terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, di samping proses pembelajaran yang kelihatan kurang maksimal diminati siswa sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.

Berkaitan dengan masalah pendidikan tersebut, maka peranan guru agama Islam sangat besar sekali pengaruhnya terhadap keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar pendidikan agama. Sebagai seorang guru agama Islam, hal tersebut merupakan tantangan pertama dalam menumbuhkan peningkatan minat dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran agama serta membantu memecahkan kesulitan siswa terutama dalam kegiatan kurikuler.

Tugas guru agama sebagai seorang pendidik tidak hanya terbatas pada penyampaian materi/pengetahuan agama kepada siswa, tetapi guru juga mempunyai tanggung jawab dalam membimbing dan mengarahkan siswanya serta mengetahui keadaan siswa dengan kepekaan untuk memperkirakan kebutuhan siswanya. Oleh karena itu, guru agama Islam dituntut tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan yang mempengaruhi jiwa, keyakinan, dan pola pikir siswa. Hal ini dapat diupayakan dengan disertai wawasan tertulis serta keterampilan bertindak, serta mengkaji berbagai informasi dan keluhan mereka yang mungkin menimbulkan keresahan.

Guru agama dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar juga di tuntut untuk menciptakan kondisi-kondisi kelas kondusif yang dapat mendorong siswa untuk melakukan kegiatan belajar agama Islam dengan sungguh-sungguh, baik itu di lingkungan yang bersifat formal maupun secara luas belajar agama di lingkungan non formal secara mandiri. Di samping itu, guru juga harus mempunyai keterampilan dalam memotivasi siswa, karena dengan adanya motivasi itu kosentrasi dan antusiasme siswa dalam belajar dapat meningkat.

Sesungguhnya permasalahan di atas yang menjadi kendala dalam usaha guru agama Islam dalam melaksanakan proses belajar mengajar khususnya dalam bidang studi pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan umum, walaupun sudah melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti praktek shalat, tadarusan al-Qur`an dan lain-lain. Oleh karena itu, usaha guru agama untuk menumbuhkan motivasi yang besar untuk belajar agama Islam masih perlu untuk disempurnakan lagi. Namun demikian, karena  meningkatkan motivasi belajar agama Islam bukanlah hal yang mudah, melainkan masih banyak problem-problem yang dihadapi guru agama Islam, maka kreatifitas dan profesionalitas guru-guru agama dan ketekunan serta keuletan dengan berbagai usaha yang dapat mengantarkan pada tumbuhnya motivasi belajar agama dengan baik.
Berdasarkan studi elaborasi di atas, maka penulis tertarik permasalahan tersebut yang terfokus pada usaha-usaha yang telah ditempuh oleh guru agama Islam dalam meningkatkan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa.

Guru Sebagai Motivator Pembelajaran

Keberhasilan suatu proses kegiatan belajar mengajar bukan hanya ditentukan oleh faktor intelektual, tetapi juga faktor-faktor yang non-intelektual, termasuk salah satunya ialah motivasi (Abror, 1993: 114). Kata motivasi di dalam Islam lebih dikenal dengan istilah niat yaitu dorongan yang tumbuh dalam hati manusia yang menggerakkan untuk melakukan suatu aktivitas tertentu dalam niat ada ketergantungan antara niat dengan perbuatan, dalam arti jika niat baik maka imbasnya juga baik dan sebaliknya.

Motivasi adalah dorongan yang timbul dari dalam jiwa seseorang untuk melakukan tindakan dengan sadar guna memenuhi satu kebutuhan atau mencapai suatu tujuan sehingga besar sekali peranan motivasi dalam upaya peningkatan pengembangan kegiatan belajar mengajar, khususnya bidang studi PAI bagi siswa.

Motivasi belajar dapat diartikan sebagai keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai satu tujuan (Winkel, 1996: 92). Motivasi juga dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik akan menunjukkkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutrama didasari adanya motivasi, maka seorang yang belajar itu akan mendapat prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.

Menurut A. Tabrani (1994: 127), pada garis besarnya motivasi mengandung nilai-nilai sebagai berikut:

1. Motivasi menentukan tingkat keberhasilan atau kegagalan perbuatan belajar siswa. Belajar tanpa adanya motivasi sulit untuk berhasil.
2.Pengajaran yang bermotivasi pada hakekatnya adalah pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif dan minat yang ada pada siswa. Pengajaran yang demikian sesuai dengan tuntutan demokrasi dalam pendidikan.
3.Pengajaran yang bermotivasi menurut kreatifitas dan imajinitas pada guru untuk berusaha secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memelihara motivasi belajar pada siswa. Guru senantiasa berusaha agar siswa pada akhirnya mempunyai motivasi yang baik.
4.Berhasil atau tidaknya dalam menumbuhkan dan menggunakan motivasi dalam pengajaran erat kaitannya dengan pengaturan dalam kelas.
5. Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral dari asas- asas mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar tidak saja melengkapi prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan pengajaran yang efektif. Dengan demikian, penggunaan asas motivasi sangat esensial dalam proses belajar mengajar.

Motivasi adalah gejala psikologis dalam bentuk dorongan yang timbul pada diri sesorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi bisa juga dalam bentuk usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.

Peranan guru sebagai motivator ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus dapat merangsang dan memberikan dorongan reinforcement untuk mendinamisasikan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreatifitas), sehingga akan terjadinya dinamika dalam proses belajar mengajar.

Berkaitan dengan pentingnya guru sebagai motivator, maka Slameto (1992: 100) menjelaskan:
“Guru hanya merupakan salah satu di antara berbagai sumber dan media belajar, maka dengan demikian peranan guru dalam belajar ini menjadi lebih luas dan lebih mengarah kepada peningkatan motivasi belajar anak. Melalui perannya sebagai pengajar, guru diharapkan mampu mendorong anak untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui berbagai sumber dan media”.

Kesalahan dalam memberikan motivasi ekstrinsik akan berakibat merugikan prestasi belajar anak didik dalam kondisi tertentu. Interaksi belajar mengajar menjadi kurang harmonis. Tujuan pendidikan dan pengajaran pun tidak akan tercapai dalam waktu yang relatif singkat, sesuai dengan target yang dirumuskan. Oleh karena itu, pemahaman mengenai kondisi psikologis anak didik sangat diperlukan guna mengetahui segala apa yang sedang dihadapi anak didik sehingga gairah belajarnya menurun. Hal ini selaras dengan statemen yang menyatakan bahwa pendidikan adalah proses yang komprehensif sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Tarbiyatu wa al-Ta’lim  (tt: 7) yang berbunyi :
فَالتَّرْ بِيَةُ بِاْلمَعْنَ اْلعَامِ هِىَ كُلُّ مُؤَ ثِّرٍ فىِ تَكْوِيْنِ الشَخْصِ الجَسْمَانِىِّ وَاْلجَسْمَانىِ وَاْلخُلُقِىَّ مِنْ حَيْنَ وِلاَدَتِهِ إِلىَ مَوْتِهِ, وَتَشْمِلُ جَمِيْعُ الْعَوَامِلِ سَوَاءٌ أَكَانَتْ مَقْصُوْدَةٌ كَالتَرْ بِيَةِ وَاْلمَتْرِلِيَّةِ وَاْلمَدْرَسِيَّةِ, اَمْ غَيْرُمَقْصُوْدَةٌ كَالتَرْبِيَةِ الَّتِى تَجِيْئُ عَرْضًاوَمَنْ تَأ ثِيْرِ البِيْئَةِ الطَبِيْعِيَّةَ وَاْلاِجْتِمَاعِيَّةِ وَغَيْرِذَلِكَ       

Pendidikan secara umum adalah setiap pengaruh dalam menjadikan seseorang secara badaniyah, akliyah (akhlak), semenjak lahir sampai pendidikan di rumah dan di sekolah, ataupun tidak seperti tujuan pendidikan yang datang karena pengaruh tabiat (sifat) serta pengaruh masyarakat dan lain sebagainya.

Guru agama perlu meningkatkan perannya sebagai motivator, yakni sebagai pendorong agar siswa melakukan kegiatan belajar agama Islam dengan menciptakan kondisi kelas yang dapat merangsang siswa untuk melakukan kegiatan belajar agama, baik secara individual maupun secara kelompok.

Untuk dapat berperan sebagai motivator, guru agama harus memiliki    kemampuan  tertentu, baik  sebagai  guru  maupun  sebagai motivator, syarat yang harus dimiliki oleh guru agama di antaranya adalah:

1.       Syarat formil: mempunyai ijazah S1 PAI, sehat jasmani dan rohani, tidak   memiliki  cacat yang menyolok, memiliki pengetahuan agama yang mendalam, bertaqwa dan berakhlak mulia, warga negara yang baik dan di angkat oleh pejabat yang berwenang.
2.       Syarat materiil: memiliki pengetahuan agama Islam secara luas, menguasai didaktik dan metodik, memiliki ilmu methodologi pengajaran, memiliki pengetahuan pelengkap terutama yang ada hubungannya dengan profesinya.
3.       Syarat non formil: mengamalkan ajaran agama, berkepribadian yang muslim, memiliki sikap demokratis, tenggang rasa, bersikap positif terhadap ilmu, disiplin. Berinisiatif dan kreatif, kritis, objektif, menghargai dan waktu serta produktif (Zein, 1995: 57).

Nana Sudjana (1989: 34-35) menegaskan beberapa syarat yang harus dimiliki guru dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang motivator belajar yaitu:
a.       Menjalin hubungan baik dan harmonis dengan siswa agar kepatuhan dan kepercayaan pada guru tertanam pada siswa.
b.       Kaya akan berbagai bentuk dan jenis upaya untuk melakukan motivasi pada siswa baik yang bersifat intrinsik maupun yang bersifat ekstrinsik.
c.       Mempunyai perasaan humor yang positif dan normatif sehingga tetap disegani dan disenangi siswa.
d.      Menampilkan sosok kepribadian guru yang menjadi panutan siswa, baik dalam prilaku di kelas maupun di luar kelas.

Mengupayakan agar motivasi belajar siswa lebih meningkat sangat penting artinya karena akan mempengaruhi kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Tugas guru adalah memotivasi siswa untuk belajar, demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Kegiatan belajar akan tercipta apabila motivasi belajar yang ada di dalam diri siswa itu akan memperkuat ke arah tingkah laku tertentu (belajar). Adapun motivasi dapat ditumbuhkan dengan cara:

a.       Membangkitkan suatu kebutuhan, yaitu kebutuhan untuk menghargai suatu keindahan, untuk mendapat penghargaan dan sebagainya;
b.       Menghubungkannya dengan pengalaman-pengalaman yang lampau;
c.       Memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, knowing success like success atau mengetahui sukses yang diperoleh individu itu, sebab sukses akan menimbulkan rasa puas (Tabrani, 1994: 121).

Guru juga dapat menggunakan bermacam-macam motivasi agar siswa dapat belajar dengan baik. Adapun cara yang digunakan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa antara lain memberi angka, memberi hadiah/ reward, menciptakan kompetisi/kemampuan, menunjukkan  pentingnya tugas, memberikan ulangan, memberitahukan hasil yang telah dicapai, memberi pujian dan hukuman, menumbuhkan hasrat untuk belajar, dan minat (Sardiman, 2001 : 92-94).

Guru juga dapat mengembangkan motivasi belajar pada siswa di dalam kelas yaitu dengan cara motivasi tugas, motivasi aspirasi, motivasi afiliasi, motivasi penguatan, dan motivasi yang diarahkan oleh diri sendiri. Dengan demikian, jelaslah bahwa banyak sekali cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Hanya yang penting bagi guru adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna.

Guru agama Islam merupakan pendidik yang mempunyai tanggung jawab dalam membentuk kepribadian Islam anak didik, serta bertanggung jawab terhadap Allah Swt (Zuhairini, 1983: 84). Oleh karena itu, ia mempunyai tugas untuk mengajarkan ilmu pengetahuan Islam, menanamkan keimanan dalam jiwa anak, mendidik anak agar taat menjalankan agama dan berbudi pekerti yang mulia.
Statemen tersebut sejalan dengan ungkapan Syaikh Az-Zarnujiy (1978: 16) dalam kitabnya yang berjudul Ta'limul Muta'alim:
وَاَمَّااخْتِيَارُاْلاُسْتَاذِ, فَيَنْبَغِى اَنْ يَخْتَارَ اْلاَعْلَمَ وَاْلاَوْرَعَ وَاْلاَسَنَّ, كَمَااخْتَارَاَبُوْحَنِيْفَةَ حِيْنَئِذٍحَمَّادَبْنَ اَبِى سُلَيْمَانَ بَعْدَ التَّأَمّ‍ُلِ وَالتَّفَكُّرِ.
Dalam memilih guru, hendaklah mengambil yang lebih 'alim, waro' dan juga lebih tua usianya. Sebagaimana Abu Hanifah setelah lebih dahulu memikir dan mempertimbangkan lebih lanjut, maka menentukan pilihannya kepada Tuan Hammad Bin Abu Sulaiman.

Tugas berat seorang guru inilah yang menjadikannya niat karena Allah semata, mencintai siswa sebagaimana ia mencintai diri sendiri, memotivasi siswa untuk menuntut ilmu seluas mungkin, menyampaikan pelajaran dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa, melakukan evaluasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya, bersikap adil terhadap semua siswa, membantu memenuhi kemaslahatan murid baik dengan kedudukan ataupun hartanya dan memantau perkembangan murid, baik intelektual maupun akhlaknya.

Teacher are responsible for guiding, moulding and improving the career of the community. They are like torch-light in darkness. As the earth derives tight and energy from the sun, similiarly the pupils receive knowledge and guidence from their teacher. The teacher are like the moon and the students are just like the star so the seekers of  knowledge and the learned teacher accupy on exceptionally prominent place in society-Pendidik bertanggung jawab penuh untuk menuntun, mencetak (karir) dan meningkatkan karier (jenjang karier) dari suatu masyarakat. Pendidik diibaratkan sebagai suatu lampu yang menyala di tengah kegelapan, sedangkan murid adalah individu yang menerima ilmu pengetahuan dan bimbingan dari pendidik mereka. Dengan demikian dalam dunia pendidikan dan pencarian ilmu, pendidik menempati posisi yang tertinggi dalam kehidupan masyarakat (AR Sahad, 1987: 14).  

 Kesimpulan

Motivasi merupakan keadaan internal organisme yang mendorong untuk berbuat sesuatu. Motivasi dapat dibedakan kedalam motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik merupakan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang dapat mendorongnya untuk belajar,misalnya perasaan menyenangi materi dan kebutuhannya terhadap materi tersebut, apakah untuk kehidupannya masa depan siswa yang bersangkutan atau untuk yang lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan keadaan yang datang dari individu siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, keteladanan orangtua, guru merupakan contoh-contoh kongkret motivasi ekstrinsik yang dapat mendorong siswa untuk belajar.

Kekurangan atau ketiadaan motivasi baik yang intrinsic maupun ekstrinsik akan menyebabkan siswa kurang bersemangat untuk melakukan kegiatan belajar baik di sekolah maupun di rumah. Dampak lanjutnya adalah pencapaian hasil belajar yang kurang memuaskan. Motif atau keinginan untuk berprestasi sangat menentukan prestasi yang dicapainya.dengan demikian,keinginan seseorang atau siswa untuk berhasil dalam belajar juga akan menentukan hasil belajarnya motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai.untuk mencapai suatu tujuan perlu dibuat sesuatu. Yang menyebabkan seseorang berbuat adalah motifnya. Dengan demikian, motif berfungsi sebagai daya penggerak atau pendorong.
Motif belajar atau menuntut ilmu dalam perspektif Islam hendaklah motifnya semata-mata mencari ilmu, bukan mencari pangkat atau pekerjaan. Sebab, apabila motifnya mencari ilmu, pangkat, dan pekerjaan akan mengiringinya, tetapi apabila motifnya mencari pangkat atau pekerjaan, ilmu belum tentu diperoleh dan pekerjaan pun belum tentu didapat. Itulah tujuan belajar atau menuntut ilmu secara ideal di dalam perspektif Islam. Perhatian, minat, bakat,dan motif atau motivasi siswa terhadap bahan pelajaran akan membentuk sikapnya dalam belajar. Oleh karena itu, sikap juga mempengaruhi belajar atau hasil belajar siswa.

* Isteri dari Tarqum Aziz (Mantan aktivis AMM Jawa Tengah) ini adalah Alumni Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto tahun 2004 dan Ketua Umum NA Cabang Gandrungmangu Cilacap yang sekarang mengabdi sebgagai Guru PAI SMP Islam Al-Irsyad Gandrungmangu Cilacap.


DAFTAR PUSTAKA
 

Abror, Abdul Rahman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Az-Zarnujiy, Syaikh. t.t. Ta'limul Muta'alim. Semarang: Toha Putra.

Hamalik, Oemar. 2007. Psikologi Belajar Mengajar. Cet. ke-5. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

______________. 2008. Proses Belajar Mengajar. Cet. ke-7. Jakarta: Bumi Aksara.

Muhaimin, dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhammad Qasim Bakr. t.t. al-Tarbiyatu wa al-Ta’lim. Surabaya: Maktabah al-Hidayah.

Nasution, S. 1986. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Bandung: Jemmars.

Ramayulis. 1998. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. ke-2. Jakarta: Kalam Mulia.

Sahad A.R. 1987. The Rights of Allah and Human Rights. India: Syah Offset Printer.

Sardiman, A.M. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Cet. ke-8. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 1992. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Bina Aksara.

Sudjana, Nana. 1989. CBSA. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Tabrani R. A. 1994. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Uno, Hamzah B. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Cet. ke-2. Jakarta: Bumi Aksara.

Winkel, W. S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Yamin, Martinis. 2006. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: Gaung Persada Press.

Zein, Moh. 1995.  Metodologi Pengajaran Agama. Yogyakarta: AK. Group.

Zuhairini. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar