Warning


SELAMAT DATANG CALON SANTRI BARU ANGKATAN KEDUA
PESANTREN MBS CILACAP

Minggu, 08 Februari 2015

Syaikh Mbah Abdus Shomad Jombor Cilongok


Syaikh Mbah Abdus Shomad Jombor Cilongok


Jombor merupakan nama Grumbul di Desa Cipete Kecamatan Cilongok di Kabupaten Banyumas. Nama Desa ini selalu dikaitkan dengan keberadaan Syaikh Abdus Shomad yang merupakan ulama abad ke-16 dalam melakukan penyebaran Islam di Banyumas pada umumnya dan peranannya dalam meng-Islamkan masyarakat wilayah Cipete dan sekitarnya pada khususnya.

Terdapat beberapa versi tentang asal usul nama“JOMBOR” sebagai grumbul di mana Syaik Abdus Shomad berdakwah dan mengajarkan agama Islam khususnya di wilayah Cipete dan di Kabupaten Banyumas pada umumnya. Adapun versi-versi ini berdasar dari informasi baik keturunan / trah maupun masyarakat setempat antara lain.

1.
Lokasi yang sekarang didirikan Masjid  Baitus Shomad di RT. 02 RW. 03 Desa Cipete, adalah merupakan tilas yang konon pernah tumbuh sebuah pohon yang sangat lebat, rimbun dan besar. Tidak jauh dari pohon tersebut terdapat sungai yang mengalir dengan kejernihan air yang masih bersifat alami.

Kehadirannya di wilayah ini disambut warga dengan sikap positif. Sebelum mendirikan Padepokan ia harus  menginap dan istirahat di rumah warga. Meski penduduk setempat juga menyediakan tempat tinggal untuk beliau, namun ada hal yang dianggap masih kurang dimana dalam setiap rumah dan tidak ada tempat yang tersedia untuk beribadah menjalankan ibadah shalat, karena pada saat itu warga masih memiliki beragam kepercayaan.

Usaha lahir terus dilakukan oleh beliau melalui sillaturrahim (ngendong bahasa Jawa) dari rumah ke rumah ibarat sebagai orang pendatang, berbaur dengan warga dalam kerukunan bermasyarakat. Sedangkan usaha batin beliau melakukan mujahadah, berkhalwat atau menyepi mendekatkan diri terhadap Allah SWT, memohon pertolongan dan diberi kemudahan dalam melakukan dakwah dan penyebaran agama Islam terhadap warga setempat.

Mujahadah ini tentu membutuhkan ketenangan bathin, sehingga beliau memanfaatkan pohon besar yang rimbun sebagai tempat untuk menyepi, tanpa ada yang mengganggu ketenangannya. Konon di atas pohon sebagaimana yang disebutkan di atas, terdapat cabang yang datar yang memudahkan beliau duduk bersila melakukan dzikir. Cabang – cabang pohon yang masih rendah memudahkan beliau naik turun tanpa harus menggunakan tangga untuk naik ke atas.

Jalan antara pohon terdapat lokasi mata air berupa sumur yang dibuat beliau, yang setiap saat digunakan untuk berwudlu. Kegiatan naik turun pohon menuju ke lokasi air ini menyebabkan jalan setapak ini menjadi becek atau dalam bahasa Banyumas disebut Jember. Orang kemudian menyebutnya Jombor, sehingga terjadilah Jombor sebagai nama grumbul.

2.
Hampir di setiap wilayah, sebelum Islam diperkenalkan kepada masyarakat khususnya di Banyumas dan umumnya di luar wilayah, kebudayaan, adat istiadat serta kepercayaan masyarakat beragam dan bermacam-macam. Budaya membuat sesaji, (nyajeni bahasa Jawa) di tempat-tempat keramat, mengkultuskan batu besar, pohon, berjudi, main, minum serta perbuatan tercela lainnya masih sangat subur. Sebagai seorang musafir Syaikh Abdus Shomad tentu tidak serta merta melarang, membenci, atau pun mencemooh bagi pelakunya mengingat Sebagai seorang pendakwah Syaikh Abdus Shomad harus tetap istiqomah menunjukkan akhlak yang mulia terhadap mereka, mengingat mereka belum mengerti.

Jombor pada versi terbentuknya asal mula tempat adalah merupakan sebagian isi dari dakwah beliau, yang berupa ajakan yang di dalamnya terkandung keselamatan bagi manusia bagi yang menuruti nasehat-nasehatnya.

Beberapa orang menafsirkan bahwa asal-usul nama Jombor yang selalu dikaitkan dengan Nama Syaikh Abdus Shomad adalah merupakan isi misi dakwah beliau yang mengandung larangan. Misalnya kata Jodalam kalimat  Jawa “Ojo” (Jangan atau tidak boleh dalam bahasa Indonesia), diartikan sebagai larangan dan dikaitkan dengan sebuah ajakan.

JO
Ojo / Jo
M
Musyrik / munafik/ .............................dst
BOR
jo Boros

Jo musyrik, Jo Munafik, Jo Mungkar, Jo Maca Qur’an Lan nyenggol nek ra suci, Jo main, Jo medok Jo mabuk-mabukan, madat, Jo metani alane wong liyo, Jo mateni / mepet dalan pangane wong liyo, Jo meneih sesaji kanggo syetan, Jo merek-merek barang haram, Jo muwur , Jo mangan riba, Jo maling dunyo wong liyo, Jo mikir kumed sodaqoh, Jo mbelani perkoro salah, Jo Mbalelo, Jo mriksani barang kang haram, Jo mburu maksiyat, Jo mekso kekarepan ala, Jo mikir ninggal shalat wajib, Jo mikir ninggal puoso wajib, Jo mulang barang kang ala, Jo mituruti bisikan syetan, Jo moni padudon karo tetonggo, Jo mentelantarkan cah yatim, Jo masang sesrangkah dalan tetonggo, Jo mungkir, Jo mutus tali paseduluran, Jo mati ra nggowo iman, Jo melak-melik dunyo wong liyo, Jo mempeng golet dunyo nanging lali gusti Allah, Jo mbetitil, merem ngamal kanggo akherat, Jo mbanggel karo nasehate kyai, Jo mblenjani janji, Jo moni nyupatani karo sepada-pada, Jo minteri sepada-pada, Jo mbebani tanggungjawab marang wong kang ora mampu, Jo mbeler nggolet pangupa jiwo (kasab/pahal), Jo mangas ketipu nikmate dunyo, Jo mbeber alaning manungsa, Jo mlanggar toto aturaning masyarakat, Jo milih urip sesrawung, Jo Mubadzir. Dan dakwah-dakwah yang lain, karena hal tersebut hanya sekedar pendapat.

BOR dalam kalimat jomBOR diartikan sebagai ajakan oJo Boros. Pemborosan waktu yang berkaitan dengan umur manusia, jika dikonsentrasikan hanya untuk kepentingan dunia tanpa dibarengi dengan ibadah adalah kerugian yang besar. Bila manusia telah diperbudak harta maka hubungan dengan Tuhan menjadi jauh. Kehidupan manusia di dunia hanyalah sebentar karena umur manusia juga telah ditentukan Tuhan. Penghaburan harta untuk kesenangan duniawi  menyebabkan seorang terjebak dalam israf. Apabila manusia telah jatuh pada kebangkrutan atau pailit maka ia lebih dekat kepada kefakiran dan kefakiran mendekatkan pada kekufuran.

Batas wilayah Jombor dari arah barat ditandai dengan sungai Kuyuk dan bagian timur dibatasi dengan sungai lembarang, bagian selatan berbatasan dengan grumbul Pejaten dan di bagian utara berbatasan dengan Desa Cirangkok.

Lokasi yang dulu digunakan untuk mujahadah sekarang didirikan Masjid dan Pondok Pesantren. Bangunan Masjid dan Pesantren yang dibangun oleh Syaikh Abdus Shomad, berupa panggung dengan bahan dasar kayu dan bambu, tepat di sebelah utara



NAMA CIPETE

Cipete merupakan nama Desa di mana Syaikh Abdus Shomad tinggal memiliki sejarah nama yang menarik. Ada dua versi untuk mengetahui asal-usul nama desa ini, antara lain :

1.
Wilayah Cipete pernah menjadi perebutan antara Kawedanan Karanglewas dengan (Pasir Luhur) dengan Kawedanan Ajibarang. Tarik menarik antara siapa yang berhak menguasai. Dengan berbagai kesepakatan dan perundingan diantara dua Kawedanan tersebut diambil kesepakatan bahwa wilayah yang sempit “Cupet” menjadi wilayah tersendiri, bukan bagian dari wilayah Kawedanan Ajibarang maupun Karanglewas (Pasir Luhur). Tokoh pendiri Desa saat itu hanya memberikan jawaban tentang tidak adanya keterpihakan dan ketidakkesiapannya untuk tunduk kepada kedua Kawedanan, dengan mengatakan, “ Panggonan Kaya Kiye Cupete Kok Degawe Rageg” ( Wilayah yang segini sempitnya kenapa menjadi keributan). Berawal dari kata Cupete berubahlah ungkapan menjadi Cipete.

2.
Bahwa kata Cipete berasal dari kata dalam bahasa Sunda. Hal ini beralasan mengingat Syaikh Abdus Shomad berasal dari Cirebon dan Sunda Kelapa, menantu-menantu beliau juga berasal dari Cirebon Sunda, sehingga terpengaruh budaya dan tradisi Sunda. Berdasarkan penelitian bahwa terdapatnya Kali Mengaji dan Kali Logawa, (di wilayah Ketapang Karanglewas) menjadi batas wilayah barat banyak dipengaruhi budaya Sunda atau Kerajaan Galuh Pakuwan atau Padjajaran. Bukti-bukti itu dapat di lihat dari nama-nama desa yang berawalan ci, seperti Cilongok, Cikawung, Cipete, Citamo, Ciberung dan lainnya.



SILSILAH ASY-SYAIKH ABDUSH SHOMAD JOMBOR

Dari Ayahnya

1.
Prabu Munding Sari
2.
Ratu Galuh
3.
Situng Winara
4.
Prabu Lingga Wastu
5.
Prabu Lingga Hayang
6.
Prabu Lingga Wastu
7.
Prabu Lingga larang
8.
Prabu Munding Kawanti
9.
Prabu Siliwangi
10.
Prabu Cathra
11.
Banyak Roma
12.
Banyak Wiratha
13.
Banyak Kesumba
14.
Pangeran Senopati Mangkubumi
15.
Panembahan Kertalangu
16.
Nyi Ageng Kembangan
17
Kyai Singawedhana
18.
Asy-Syaikh Abdush Shomad Jombor


Dari garis Ibu

1.
Rasulullah Muhammad SAW
2.
Fatimatuzzahrah
3.
Sayyidina Husain
4.
‘Ali Zainal Abidin
5.
Muhammad Al-Baqir
6.
Ja’far As-Shadiq
7.
‘Ali Al’ridhi
8.
Muhammad
9.
Isya Albasyari
10.
Ahmad Al Muhajir
11.
‘Ubaidilah
12.
‘Uluwi
13.
‘Abdul Malik
14.
‘Abdullah
15.
Imam Ahmad Syah
16.
Jamaludin Akbar
17
Najmudin
18.
‘Abdullah
19
Syarif Hidayatullah (Sunan Gungjati)
20.
Maulana Hasanudin
21.
Pangeran Sakheti
22.
Panembahan Kertalangu
23.
Nyai Ageng Kembangan
24.
Kyai Singawedana
25.
Syaikh Abdus Shomad Jombor


RIWAYAT KELAHIRANNYA

Syaikh Abdus Shomad lahir di Jawa Barat. Tanggal dan tahun kelahiran belum ditemukan. Beliau diperkirakan lahir pada abad ke-16 M. Data yang mendukung terdapat pada bekas prasasti kayu dengan huruf Jawa yang tertulis “Gebyog Iki Dibangun Ing Tahun 1817 Masehi. Gebyog adalah Cungkup makam Syaikh Abdus Shomad. Sedangkan bangunan makam tersebut dibangun oleh Mbah Kyai Muhammad Noer Zaman, yang dalam catatan silsilah keluarga Jombor merupakan keturunan ketujuh dari Syaikh Abdus Shomad.

Petunjuk lain yaitu antara Syaikh Abdus Shomad dengan Adipati Joko Kaiman terdapat hubungan besan. Hasanudin putra Syaikh Abdus Shomad dinikahkan dengan putri dari Adipati Joko Kaiman. Hubungan ini mengindikasikan adanya rentang masa kehidupan mereka dalam kurun waktu yang sama.

Beberapa tahun kenudian bangunan makam yang semula terbuat dari ijuk diganti dengan seng atas prakarsa Syaikh Abdul Malik (Kedung Paruk Purwokerto), seorang ulama Kharismatik dan Guru Besar Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Asy-Syadziliyah Indonesia, putra dari Syaikh Muhammad Ilyas Sokaraja, keturunan ke-empat Pangeran Diponegoro, bangswan dari Kesultanan Yogyakarta. Syaikh Abdul Malik Dari pihak ayah  yaitu Syaikh Muhammad Ilyas keturunan Kasultanan Yogyakarta, sedang dari pihak ibu keturunan Syaikh Abdus Shomad keturunan Padjajaran.

Setelah dari Makkah Syaikh Muhammad Ilyas dinikahkan dengan adik dari Syaikh Abdullah Kepatihan Tegal akan tetapi tidak dikaruniai keturunan, kemudian dinikahkan kembali dengan cucu Syaikh Andus Shomad yaitu Nyai Zainab, dan dikaruniai empat orang anak. Anak pertama laki-laki yang diberi nama Muhammad Asy’ad yang kemudian dikenal

MASA PENDIDIKAN


Masa muda Syaikh Abdus Shomad dihabiskan di Pondok Pesantren di Gunung Jati Cirebon Jawa Barat. Peluang karir untuk menjadi pejabat di lingkungan keraton seperti halnya suadara-saudaranya, tidak menarik perhatian bagi Syaikh Abdus Shomad muda.

Orangtuanya menyebutnya dengan filsafat tabuh beduk. Syaikh Abdus Shomad tidak tertarik menerima tongkat estafet pemimpin namun lebih tertuju kepada cita-citanmya menjadi seorang santri yang kelak mampu memberi manfaat kepada ummat dalam penyebar agama Islam dengan memilih tongkat tabuh / pemukul beduk yang adanya di longkungan pesantren / masjid.

Kehidupan keraton yang penuh dengan berbagai kesenangan dan berada di dalamnya adalah tingkat strata kehidupan yang tinggi, tentu tidak sama dengan kehidupan komunitas di Pondok Pesantren. Kehidupan serta kebutuhan diri memperpanjang kehidupan di Pondok dengan seluruh suka dan duka tidak merubah pendirian untuk terus “ngalap berkah ilmu sang kyai” hingga pada akhirnya sang kyai  menganggap sebagai santri terbaik dengan menguasai ilmu-ilmu agama sebagai bekal pengembaraan melakukan dakwah Islam.

PERJALANAN DAN PERJUANGAN DAKWAH ISLAM


Setelah Syaikh Abdus Shomad dinyatakan lulus dengan prestasi terbaik, beliau pamit pulang dan oleh gurunya diberi petunjuk untuk berjalan ke timur ke arah selatan, setelah sebelumnya ia menetap beberapa tahun di Sunda Kelapa dan Cirebon, untuk melakukan dakwah di sana.

Kebiasaan Syaikh Abdus Shomad untuk bermujahadah seperti yang dilakukan di pesantren terus dilakukan, hingga satu waktu ketika beliau sedang menyepi bermujahadah di bawah pohon kelapa dalam suasana malam yang gelap serta rimbunnya tumbuhan disekitar hutan, telah merubah konsentrasi beliau ketika seekor ular besar mendekat. Dalam menghadapi ancaman tentu Syaikh Abdus Shomad tidak menyandarkan pada takdirnya sendiri. Bagaimana pun ia harus berusaha menghindar dari berbagai kemungkinan ancaman yang dihadapi dengan naik ke atas pohon kelapa agar konsentrasi mujahadah terus dapat dilakukan. Hingga menjelang pagi ular bukan malah pergi tetapi malah melilit pohon kelapa dimana beliau berada di atas.

Perjalanan selanjutnya menuju Pantai Selatan, yaitu Cilacap, menuju Kampung laut Kelapa Kerep. Kelapa Kerep konon adalah kelapa yang dirapatkan yang digunakan sebagai rakit.

SINGGAH DI JINGKANG-SAWANGAN

Sebelum Syaikh Abdus Shomad sampai di Jingkang Sawangan yang saat ini masuk wilayah Ajibarang, telah terjadi penyebaran Islam yang dilakukan oleh Mbah Munhasir, yang diyakini merupakan pendatang dari Sriwijaya-Palembang dan menetap di wilayah ini.

Mbah Munhasir dengan demikian adalah tokoh yang berperan dalam membuka hutan menjadi wilayah desa dibantu beberapa orang lokal, hingga kemudian Mbah Munhasir mendapat jodoh putri Redja Wikrama tokoh lokal yang telah memberikan fasilitas selama melakukan dakwah.

Pembukaan hutan menjadi areal desa telah menarik perhatian penduduk di luar wilayah Jingkang-sawangan sekitar berdatangan menuju kepada kehidupan baru di tempat ini.

Keadaan tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, sehingga Mbah Munhasir merasa perlu untuk mendirikan Padepokan di wilayah Jingkang-Kalisari sebagai tempat berbagi ilmu-ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu kanuragan. Setelah Mbah Munhasir wafat kepemimpinan padepokan diserahkan kepada putranya Mbah Sahidin. Setelah dua tokoh tersebut wafat tidak ada generasi berikutnya yang menyiarkan Islam di Ajibarang, sampai hadirnya Syaikh Abdus Shomad.

Syaikh Abdus Shomad sendiri sebenarnya hanya berniat singgah karena statusnya adalah sebagai musafir. Namun ketika keberadaan di tempat ini banyak diminta penduduk lokal akhirnya beliau bertahan beberapa tahun melanjutkan dakwah dari para pendahulu tokoh agama di wilayah ini.

Bersama dua pengikutnya yang merupakan santri Syaikh Abdus Shomad, yakni Mbah Bagus santri dan Mbah Bujang Santri, terus menerus melakukan dakwah sambil terus membuka lokasi hutan menjadi areal perkampungan. Ketika perjalanan masih terus berlanjut kedua santrinya wafat dan dimakamkan di Sawangan-Jingkang.

SINGGAH DI PEJATEN


Pejaten sekarang adalah grumbul di wilayah Desa Cipete Kecamatan Cilongok Banyumas. Grumbul Pejaten merupakan alas hutan jati, sebelum dibuka menjadi areal tempat tinggal.

Setibanya di Pejaten beliau melakukan laku ritual mujahadah di atas batu cadas Sungai Tenggulun. Bersamaan dengan itu, Nyai Sakheti putri tunggal Mbah Kroya atau Mbah Sukma Sejati, seorang tokoh yang tinggal di Bantuanten (2 km dari wilayah Pejaten) tengah mengalami sakit keras dan belum mendapatkan obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang diderita putrinya.

Satu hari Mbah Kroya mendengar suara seperti gemuruh ombak, mirip suara kawanan lebah. Untuk memastikan bahwa sumber suara bukan ombak atau suara lebah namun berasal dari suara manusia, maka Mbah Kroya mengutus para pembantunya untuk mencari. Para pembantunya merasa tertegun setelah menemukan sumber suara itu adalah lafadz dzikir yang dilakukan oleh Syaikh Abdus Shomad yang duduk melakukan mujahadah di atas batu cadas sungai Tenggulun.

Percakapan para pembantunya di hadapan Syaikh Abdus Shomad telah mengundang naluri kemanusiaan Syaikh Abdus Shomad untuk bersilaturrahmi bertemu dengan Mbah Kroya dengan membawa air menggunakan daun talas dari sungai Tenggulun.

Pertemuan antara Mbah Kroya dengan Syaikh Abdus Shomad menumbuhkan rasa bangga diantara keduanya, karena mereka sama-sama bersasal dari wilayah Jawa Barat. Sampai beberapa hari kemudian Nyai Sakheti binti binti Mbah Kroya / Mbah Sukma Sejati dinikahkan dengan beliau Mbah Abdus Shomad.

Bantuanten berasal dari kata Bantuan atau Pertolongan dan Banten. Menilik dari sejarah terbentuknya desa Bantuanten tidak terlepas dari sosok Mbah Kroya sendiri. Mbah Kroya beserta beberapa pengikutnya pernah turut memberikan bantuan dalam sebuah peperangan yang melibatkan Kesultanan Banten. “Mbantu Banten”. Julukan  Mbah Kroya atau Mbah Sukma Sejati tidak lain karena Kroya merupakan grumbul tempat dimana beliau dimakamkan di pinggiran Sungai Tenggulun. Sedangkan adik laki-lakinya yang bernama Mbah Jati Kusuma dimakamkan di Kedung Makam Desa Bantuanten.


BERMUKIM DI JOMBOR


Setelah tinggal beberapa lama di Tempat Mbah Kroya bersama istri, maka Syaikh Abdus Shomad melanjutkan perjalanan ke wilayah Desa Cipete tepatnya di grumbul Jombor.

Perjalanan dari Bantuanten ke wilayah Cipete, harus melalui jalan setapak penghubung antara grumbul Pejaten, Jombor Selatan dan Jombor Kauman.  Dengan menyusuri jalan yang jarang dilalui, Syaikh Abdus Shomad sesekali harus memastikan bahwa jalan yang sedang dilalui bukan jalan yang dilalui hewan-hewan buas.

Dalam perjalanan tersebut secara tidak sengaja beliau melihat anak harimau yang jatuh ke jurang sempit dan tidak mampu melompat ke atas karena tubuhnya terbelit akar. Terlihat sudah berhari-hari anak harimau itu tidak mampu melompat dan induknya tidak mampu menolongnya. Melihat ketidakberdayaan anak harimau tersebut Syaikh Abdus Shomad segera menurunkan barang bawaan sementara sang istri menunggu sambil berharap penuh kecemasan, karena berada di tengah hutan yang gelap oleh rimbunnya pohon-pohon besar.

Anak harimau yang terus bergerak agaknya cukup menyulitkan beliau untuk mengangkat ke atas. Pada saat tubuhnya hampir sampai di ujung jurang, anak harimau terus meronta hingga menimbulkan suara yang mengundang perhatian induk semangnya. Istrinya yang melihat kehadiran induknya yang bertubuh besar datang dan langsung hendak menerkam Syaikh Abdus Shomad. Namun beberapa saat harimau yang besar itu dapat ditaklukkan.

Di Jombor inilah menjadi tempat mukim Syaikh Abdus Shomad hingga akhir hayatnya. Konon Syaikh Abdus Shomad sempat menikah lagi dengan Nyai Saketi binti Mbah Abdul Salam, kakak seperguruan yang pernah bersama nyantri di Pesantren Cirebon.

Syaikh Abdus Shomad pada saat masih bersama di Pesantren pernah membuat perjanjian pada saat akan meninggalkan Pesantren, bahwa bila pada saat nanti Mbah Abdul Salam memiliki anak perempuan, maka akan dinikahkan dengan  Syaikh Abdus Shomad. Barangkali perjanjian itu hanya obrolan biasa sebagai seorang santri. Waktu telah berlalu dan Syaikh Abdus Shomad hampir sudah melupakan perjanjian yang tidak resmi tersebut. Namun perjanjian tersebut barangkali terdengar oleh Allah, sehinga merupakan do’a bagi Syaikh Abdus Salam. Rupanya perjanjian tersebut terus dipegang oleh Mbah Abdul salam, sehingga beliau mencari Syaikh Abdus Shomad untuk menepati perjanjiannya menuju Jombor bersama puterinya Nyai Sakheti ( nama sakheti adalah gelar bagi wanita bangsawan yang memiliki strata sosial tinggi). Setelah Mbah Abdul salam berada di Jombor, oleh Syaikh Abdus Shomad diminta untuk tetap tinggal di Jombor.

Penggalian informasi tentang istri dan keturunan yang di tinggal di Cirebon, sebelum mukim di Jombor juga belum tergali, dan lacak informasi keterangan tentang pernikahan Syaikh Abdus Shomad dengan Nyai Sakethi binti Mbah Abdus Salam, terutama pada anak keturunan dan sejarah Mbah Abdus Salam. Apakah silsilah keturunan syaikh Abdus Shomad hingga sekarang adalah pernikahan dengan Nyai Saketi binti Mbah Kroya / Mbah Sukma Sejati ataukah keturunan pernikahannya dengan Nyai Saketi binti Abdus Salam, namun besar kemungkinan adalah pernikahan dengan Nyai Sakheti binti Mbah Kroya / Mbah Sukma Sejati, yang telah menerunkan ulama-ulama besar di Banyumas dan sekitarnya.

Mbah Abdus Salam sendiri disamping sebagai seorang ulama beliau juga seorang yang ahli dalam urusan tata pemerintahan . Dan seorang yang pandai berpidato atau ketib. Gagasan tentang tata aturan pemerintahan saat itu menjadi Inspirasi para pengelola wilayah baik Kesultanan maupun tingkat pemerintahan kawedanan.

Peran agama dan pemerintahan dijalani oleh Mbah Abdus Salam di wilayah Gununglurah saat itu. Kehebatannya dalam mendidik calon-calon pemipin, telah menerbitkan nama harum Gununglurah-Cilongok sebagai basis kampung para pemimpin, sehingga dinamakan Gunung Lurah.

Selama tinggal di Gununglurah ini, Mbah Abdus Abdul Salam banyak menerima tamu yang sengaja tukar kawruh tentang ilmu-ilmu pemerintahan. Beliau wafat dimakamkan di pekuburan umum Desa Gununglurah. Makamnya tidak pernah sepi dari para peziarah, terutama mereka yang memiliki hajat ingin mencalonkan diri mengabdi kepada negara atau pun Kepala Desa.

Setelah Abdus Shomad merasa bahwa Jombor adalah pilihan terakhir untuk mengemban amanat sang guru dalam menyebarkan Islam di wilayah Kabupaten Banyumas, maka dengan bantuan warga sekitar diberi tanah sesuai dengan kebutuhan untuk mendirikan bangunan berupa Padepokan sebagai rumah berbagi ilmu agama Islam dan ilmu-ilmu yang lain yang diperlukan masyarakat saat itu.

Sebelum Syaikh Abdus Shomad menetap di Jombor dan mendirikan Padepokan telah ada seseorang yang dianggap tokoh / Kamitua / Sesepuh yang cukup disegani, meski dia sendiri bukan seorang kyai dan hanya seorang kamitua yang ahli dalam ilmu-ilmu kejawen. Agaknya sang kamitua ini merasa tersaingi dengan kehadiran beliau Syaikh Abdus Shomad. Dengan berbagai keilmuan “Kejawen” kamitua ini terus menanam permusuhan meski sebenarnya Syaikh Abdus Shomad tidak pernah berfikir untuk mengalahkan, namun karena kesombongan sang kamitua ini akhirnya kalah pamor.

Latar belakang keilmuan Kejawen yang diperoleh Kamitua / Sesepuh tersebut juga tidak jelas, bahkan berseberangan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan Syaikh Abdus Shomad. Apakah keilmuan yang diajarkan diperoleh melalui guru atau pun dipelajari dari nenek moyangnya. Dalam bidang ilmu agama Islam yang dimiliki agaknya masih dangkal, karena tidak mampu mengangkat dirinya dalam status julukan kyai saat itu. Namun dari segi pamor agaknya luar biasa. Rumahnya tidak pernah sepi dari kehadiran warga sekitar untuk memohon petunjuk atau pepadang.

Kehebatan dalam menguasai ilmu klenik / Kejawen ini cukup untuk menarik perhatian sampai di luar Jombor. Pamor yang dimiliki kamitua ini juga menyebabkan kedudukan keluarga dan dirinya semakin kuat bertahan puluhan tahun di grumbul Jombor.

Dengan mukimnya Syaikh Abdus Shomad, Sang Kamitua menganggap bahwa kehadiran Syaikh Abdus Shomad di Jombor dianggap sebagai tandingan pamor bagi dirinya. Melalui propaganda yang dihembuskan kepada warga dan orang-orang yang datang di kediamannya, Kamitua ini terus memperkuat keadaan dirinya.  Dengan berbagai alasan Syaikh Abdus Shomad dianggap telah merubah adat tradisi dan tatanan yang telah berlaku dari generasi ke generasi, dan itu merupakan sebuah ancaman yang bersifat pribadi di mata masyarakat. Namun demikian dakwah tetap dilakukan dengan kesabaran hingga masyarakat setempat benar-benar meninggalkan tradisi-tradisi musyrik serta mengembangkan tradisi yang disentuh dengan ruh Islami, sebagai upaya media dakwah saat itu.

SYAIKH ABDUS SHOMAD DAN PENGELOLAAN PADEPOKAN


Ketika Syaikh Abdus Shomad menetap di Jombor usianya memang mendekati usia-usia 60 tahun. Usia tersebut tergolong usia senja menuju usia masa tua.

Kegiatan dakwah dilakukan di lingkungan Padepokan, karena secara fisik Syaikh Abdus Shomad tidak lagi sekuat dan memiliki energi yang penuh untuk melakukan keliling di wilayah Jombor dan sekitarnya.

Namun demikian Syaikh Abdus Shomad mendapat perhatian masyarakat di lingkungan di luar Desa Cipete sangat luar biasa, karena berita dari mulut ke mulut tentang kehadiran seorang ulama pembawa agama Islam semakin banyak yang singgah dan menetap di Kabupaten Banyumas saat itu. Para penuntut ilmu pun datang silih berganti hingga Syaikh Abdus Shomad wafat.


PENERUS PERJUANGAN


Dari sumber silsilah keluarga Jombor, disebutkan bahwa Syaikh Abdus Shomad memiliki tiga orang keturunan, dua laki-laki dan satu perempuan, masing-masing bernama, Nyai ‘Ali, Nadzmudidin dan Hasanudin (Mbah Lambak).

Nyai ‘Ali nikah dengan Kyai Zainal Ali dari Cirebon. Keturunan dari Nyai ‘Ali dengan Kyai Zaenal inilah yang kemudian meneruskan perjuangan Islam di Jombor dan turun temurun menjadi perawat (kuncen) makam Syaikh Abdus Shomad, sampai sekarang.

Anak keturunan Nyai ‘Ali dengan Kyai Zaenal Ali tersebar di beberapa wilayah, seperti di Ajibarang, Pasiraman, Cikawung, Kali Benda, Citomo, Kroya, Sumpiuh, Sokaraja, Sawangan-Purwokerto, Wangon, Purbalingga, Bajarnegara, Blitar (Jawa Timur) sampai ke Lampung (Sumatera). Sedangkan Hasanudin atau yang dikenal dengan Julukan Mbah Lambak tinggal menetap di Banyumas dan dimakamkan di Dawuhan Banyumas.

Mbah Ketib Arum (Ketib Arum adalah putera dari Kyai Ali Muhammad dan Kyai Ali Muhammad adalah putera dari Kyai Muhammad dan Kyai Muhammad adalah putera tunggal dari Nyai ‘Ali sedang Nyai ‘Ali adalah puteri dari Syaikh Abdus Shomad). Dikenal sebagai tokoh ulama sekaligus orang yang pandai dalam berpidato (ketib). Pernah menjadi penghulu, sebuah lembaga pemerintahan bentukan Kolonial Belanda serta giat menekuni olah kanoragan.

Setelah semua keturunan Mbah Ketib Arum ini wafat, Padepokan dipindahkan ke Jombor Tengah atau kauman, karena pertimbangan keluarga / kerabat sebagian menetap di tempat ini, dan awal Syaikh Abdus Shomad pertama kali sering melakukan mujahadah juga di tempat ini. Selanjutnya Padepokan di asuh oleh Mbah Kyai Muhammad Sulaiman, yang merupakan menantu sebelumnya. Mbah Kyai Sulaiman ini adalah keturunan dari Adipati Mruyung Ajibarang.

Berikut adalah generasi penerus yang mengembangkan Pondok Pesantren di Jombor:

1.
Mbah Kyai Zainal ‘Ali
2.
Mbah Kyai Achmad Muhammad
3.
Mbah Kyai ‘Usman ‘Ali
4.
Mbah Kyai ‘Ali Muhammad
5.
Mbah Kyai Ketib Arum
6.
Mbah Kyai Zainal ‘Ali
7.
Mbah Kyai Munadha
8.
Mbah Kyai Marhani
9.
Mbah Kyai Muhammad Ikhsan
10.
Mbah Kyai Muhammad Sulaiman
11.
Mbah Kyai Muhammad Noer Zaman
12.
Kyai Abdurrahman

Sekitar tahun 1960 an keberadaan Pondok Pesantren, mengalami masa-masa fakum. Pengelolaan peninggalan Syaikh Abdus Shomad berkisar pada perawatan makam Syaikh Abdus Shomad, pengelolaan masjid, pengembangan lembaga pendidikan seperti Madin, Majlis Taklim, dan Madrasah Ibtidaiyah. Dari kepemimpinan Kyai Abdurrahman menurun pada  generasi berikutnya seperti:

1.
Kyai Muhiddin - Menantu
2.
Kyai Mas’ud (puetra pertama Kyai Abdurrahman)
3.
Kyai Humam Mas’udi (putera Kyai Mas’ud)
4.
Kyai Abdullah Sajad (keturunan kesembilan  Syaikh Abdus Shomad) Koordinator pengurus makam, yang merupakan putera dari Kyai Muhammad Hasan Tayyib (kuncen terdahulu) dengan puteri ketiga dari Kyai Muhammad Noer Zaman yaitu Nyai Kusrinah.



Setelah waktu berlalu lama akhirnya Pondok Pesantren kembali dibangun di wilayah Jombor oleh Kyai Muhdi bin Kyai Muhidin. Kyai Muhdi adalah keturunan kesepuluh dari Syaikh Abdus Shomad Jombor. Sementara di Jombor Kauman menjadi pusat pengelolaan lembaga pendidikan seperti, Madin, Madrasah, Majlis taklim.



KAROMAH SYAIKH ABDUS SHOMAD

1.
Menimba Emas


Dikisahkan setiap kali beliau berhadast, beliau turun untuk mengambil air wudlu. Ketika  Syaikh Abdus Shomad menggunakan periuk atau kendi sebagai timba untuk mengambil air, kemudian secara perlahan diangkat ke atas terdapat keanehan, sebab periuk atau kendi yang sedang diangkat ke atas terasa berat dan harus mengeluarkan tenaga yang lebih. Alangkah terkejutnya ketika periuk yang telah menyentuh bibir sumur, terlihat bukan hanya berisi air tetapi sebagian dari badan periuk berisi bongkahan emas yang lebih besar dari periuk yang digunakan untuk timba.

Sadar bahwa beliau sedang diuji oleh Allah, SWT segera ia beristighfar dan berdo’a, mengadu bahwa bukan harta duniawi yang beliau pinta, namun pertolongan, kekuatan, kesabaran serta ridlo Allah SWT dalam memperjuangkan Agama Islam, di tempat yang baru, budaya masyarakat yang bermacam-macam serta kepercayaan yang beragam, hingga kemudian beliau melemparkan kembali emas tersebut ke dalam sumur.

2.
Membungkam Gong


Konon tradisi kesenian seperti wayang, kuda lumping dan kesenian yang mempergunakan gong, kenong atau benda lain sebagai alat musiknya, tidak akan berfungsi atau berbunyi apabila di bunyikan di wilayah Jombor. Dalam sejarahnya sampai hari ini, belum pernah di jombor ada pagelaran wayang, ronggeng, tayub ataupun kuda lumping.

Keadaan ini mengisyaratkan sejarah tersendiri bagi warga setempat. Bagi kebanyakan orang hal tersebut mungkin sudah mafhum, bahwa itu merupakan Karomah yang dimiliki Syaikh Abdus Shomad, mengingat jasad beliau dimakamkan di tanah ini. Karomah tersebut pada dasarnya tidak bisa dinalar sebab itu kekuasaan Allah. Namun bagi kebanyakan orang tentu hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji akar peristiwa yang melatar belakangi.



3.
MEMBUAT “KEDER” SERDADU BELANDA


Karomah ini tidak saja terjadi ketika Syaikh Abdus Shomad masih hidup, bahkan setelah beliu wafat pun masih dapat dirasakan di lingkungan sekitar Jombor. Diantara karomah yang terjadi setelah beliau meninggal antara lain membuat bingung atau Keder. Keder yang sering terjadi pada kita terkadang seputar arah dan tempat serta menjadi linglung meskipun kita sebenarnya sadar.

Pada masa penjajahan Belanda, para serdadu Belanda bukan hanya berusaha merebut dan menguasai pusat-pusat kota di sekitar Banyumas, namun seluruh pelosok di wilayah Banyumas ini tidak lepas dari kegiatan operasi, untuk memburu para tentara Indonesia yang bersembunyi di wilayah pedesaan.

Para serdadu Belanda ini konon mengalami hal aneh dan tidak mampu membuat keputusan operasi penyergapan atau pun penyerangan terhadap markas tentara Republik, ketika akan masuk ke Desa Cipete.

Semua jalan yang menuju Desa Cipete, dianggap sebagai jalan buntu, yang tidak memungkinkan untuk dilalui mobil-mobil perang serta terhamparnya jurang dan bukit yang tidak memungkinkan serdadu yang berjalan kaki untuk turun dan mendaki. Dengan keaneha-keanehan tersebut para serdadu Belanda kemudian mengalihkan dan berbalik mencari jalan yang lain.

Meski telah menemukan jalan lain menuju Desa Cipete, namun para Serdadu Belanda ini mengalami keanehan lain yang sama pada peristiwa kejadian pertama. Akhirnya para tentara Belanda ini hanya bisa berhenti di perbatasan desa, bingung karena jalan yang dilalui terlihat seperti jalan yang pertama kali dilalui.

Hal itu berlaku bagi seluruh Serdadu Belanda, meskipun kompi / pasukan yang berbeda-beda pasti akan mengalami hal yang sama, baik mereka yang datang dari arah barat (Ajibarang) maupun mereka yang datang dari arah timur (Purwokerto).

PENINGGALAN-PENINGGALAN SYAIKH ABDUS SHOMAD


1.
Masjid Baitus Shomad Jombor, yang merupakan petilasan beliau melakukan kegiatan mujahadah.

2.
Pohon Kayu Nagasari yang berada di lokasi makam Syaikh Abdus Shomad, yang telah berusia ratusan tahun yang di tanam di kompleks makam dan digunakan sebagai tanda di tempat tersebut dimakamkan pula keturunan Syaikh Abdus Shomad. Hal yang sama juga ditemukan pada komplek makam Mbah Lambak (Mbah Hasanudin) di sebelah selatan makam Joko Kaiman.

3.
Sebuah Bedug yang terbuat dari kayu sidagurih. Terdapat tiga bedug yang dibuat, satu bedug di bawa ke ke Demak, satu di bawa ke Purwokerto dan satu ada di Jombor.




Demikian sejarah singkat perjalanan Syaikh Abdus Shomad Jombor, ulama yang memiliki karomah yang tinggi yang telah berperan dalam menyebarkan Agama Islam di Banyumas.

Penampilannya yang bersahaja, akhlaknya tinggi, kedalaman ilmu dalam bidang Tasawuf / Tarekat, Aqidah, Fiqih / mu’amalah, telah menempatkan beliau sebagai ulama yang disegani pada zamannya. Sedangkan karya-karya beliau yang bersifat tertulis dan sebagainya juga belum tergali.

Karomah dan do’a-do’anya telah memberi pencerahan bagi penduduk setempat baik ketika masih hidup maupun setelah beliau wafat. Maqamnya yang berada di Jombor tidak pernah sepi dari para pengunjung yang sengaja datang untuk berziarah, mendo’akan dan berdo’a di dekat maqam seorang wali yang memiliki karomah. 

Mudah-mudahan tulisan rintisan ini akan menjadi berkembang menuju pada penggalian Koreksi dan informasi yang lebih lengkap dan sangat berguna bagi Masyarakat Banyumas dan sekitarnya.

Dari Berbagai Sumber

Kisah Teladan KH. Hasyim 'Asy'ari tentang Muhammadiyah


Kisah Teladan KH. Hasyim 'Asy'ari tentang Muhammadiyah
Ustadz Aris Munandar, M.PI

Pada suatu hari di awal abad ke-20, salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi di antara masyarakat kampungnya.
“Siapa namanya?” tanya Hadhratus Syaikh.
“Ahmad Dahlan”
“Bagaimana ciri-cirinya?”
Santri Basyir menggambarkannya.
“Oh! Itu Kang Dahlan!” Hadhratus Syaikh berseru gembira. Orang itu, beliau sudah mengenalnya. Teman semajlis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib al-Minangkabawi di Makkah sana.
“Tidak apa-apa”, kata Hadhratus Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia”.
Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang tangan kanan utamanya.

KH Ahmad Dahlan Hobi Main Bola, KH Hasyim Asy’ari Suka Pencak Silat

KH Ahmad Dahlan Hobi Main Bola, KH Hasyim Asy’ari Suka Pencak Silat


 
Siapa yang tak kenal sosok KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari? Keduanya adalah tokoh pendiri organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Uniknya, kedua kyai panutan umat itu hidup sejaman, bahkan bersahabat. Namun di antaranya keduaya memiliki sejarah dan keistimewaan hidup masing-masing. Sejarah dan keistimewaan kedua tokoh tersebut terungkap dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya, sejak kecil hingga menjelang wafatnya. Kebiasaan-kebiasaan inilah yang kemudian membentuk karakter dan ketokohan sang kyai.

Kisah kebiasaan dan kegemaran KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sebagaimana judul di atas, merupakan bagian dari kebiasaan-kebiasaan inspiratif kedua tokoh tersebut, yang terangkum dalam sebuah buku yang berjudul“Kebiasaan-kebiasaan Inspiratif KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari, Teladan-teladan Kemuliaan Hidup”, karya M. Sanusi, yang diterbitkan oleh Penerbit Diva-Press.
13913190841863175989
Sampul buku “Kebiasaan-kebiasaan Inspiratif KH Ahmad Dahlan & KH Hasyim Asy’ari” (sumber: dokpri)

Bagi saya, buku ini sangat menarik, karena untuk mengenal kedua tokoh tersebut, tidak hanya dengan menelaah pemikiran-pemikirannya, namun juga dengan menelusuri kisah perjalanan hidupnya, termasuk pada kehidupan sehari-hari yang menjadi inspirasi bagi kita semua untuk meneladaninya.

Dari sekian banyak judul tulisan yang terdapat pada buku tersebut, saya tertarik dengan judul yang menguraikan tentang olahraga yang menjadi kegemaran kedua beliau tersebut. Disebutkan bahwa KH Ahmad Dahlan ternyata hobi main bola. Sedangkan KH Hasyim Asy’ari suka bela diri pencak silat. Menariknya, cerita tentang hobi kedua tokoh tersebut bukan sekedar cerita biasa yang kosong makna. Diceritakan bahwa kesukaan kedua beliau tersebut ternyata sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup masing-masing sebagai tokoh pendiri Muhammadiyah dan NU.

Darwis Kecil yang Hobi Main Bola

Darwis, panggilan masa kecil KH Ahmad Dahlan, tak pernah absen bermain bola bersama teman-temannya ketika menjelang sore. Biasanya Darwis dan teman-temannya bermain sepakbola ketika menjelang sore atau sehabis mengaji di sore hari kepada kyai Kamaludiningrat di Masjid Gedhe Kauman. Selain bermain petak umpet dan gobag sodor, Darwis juga sering bermain bola tak jauh dari tempatnya mengaji, yakni di alun-alun utara, atau sesekali di alun-alun selatan yang tak jauh dari rumahnya.

Seperti diceritakan dalam novel “Sang Pencerah”, walaupun permainan yang berlangsung pada suatu sore hari itu tidak berpihak kepada timnya, tidak menjadikan jiwa dan raga Darwis lesu. Darwis kecil tetap semangat walaupun ia telah dicederai pihak lawan. Bahkan ia tidak mendendam akibat permainan curang sore hari itu. Di sinilah etos kedisiplinan dan sportivitas dijunjung tinggi oleh Darwis. Bagi Darwis, sepakbola adalah permainan. Kerja sama dan sportivitas merupakan elemen inti yang tak dapat ditinggalkan. Kalah dan menang bukan yang utama.

Dalam sepakbola, nilai kepemimpinan terlihat dalam diri pelatih dan kapten tim. Pelatih dapat dikatakn sebagai mastermind dalam meracik strategi bagi timnya. Pelatih adalah juga pemimpin dalam tim sepakbola. Karena itu, kewibawaan, kecerdasan, kecerdikan dan kedisiplinan merupakan sikap yang harus  tertanam dalam diri setiap pelatih.

Selain pelatih, sikap pemimpin juga terlihat dalam diri kapten tim, yang memimpin reka-rekannya di lapangan. Kapten tim hadir untuk mengganti peran pelatih, untuk memimpin teman-temannya dalam menerapkan strategi yang telah ditetapkan oleh pelatih, dan juga untuk memberikan semangat bagi teman-teman satu tim. Seorang kapten tim harus memiliki kharisma khusus, di mana rekan satu timnya dapat menaruh kepercayaan untuk memimpin mereka di lapangan.

Tak heran jika kelak Darwis (yang kemudian dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan) menjadi orang besar dan berkharisma dalam memimpin organisasi Muhammadiyah yang didirikannya. Sejak kecil, beliau secara alamiah memang terlatih sebagai pemimpin yang dicintai. Dalam memimpin, beliau menekankan strategi dan kerja sama, yang dibangun bersama dalam tim. Hingga kini, Muhammadiyah (yang didirikan pada tahun 1912) dikenal sebagai organisasi dengan kepemimpinan secara kolegial. Kepemimpinan model ini tidak menonjolkan kharisma seseorang, melainkan dengan kerja sama dan mencari titik temu jika terjadi perbedaan di antara para pemimpin. Dengan karakter kepemimpinan tersebut, maka proses regenerasi dapat berlangsung relatif tanpa hambatan. Masyarakat pun akan lebih mengenal amal usaha Muhammadiyah, seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan sebagainya, daripada nama pemimpinnya.

KH Hasyim Asy’ari yang Gemar Pencak Silat

KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai pribadi yang suka bela diri, terutama pencak silat. Beliau meluangkan setiap waktu secara rutin untuk memperdalam ilmu pencak silat. Hal ini dilatarbeakangi oleh kondisi sosial waktu itu yang menuntutnya menguasai ilmu bela diri. Tidak hanya KH Hasyim Asy’ari, bahkan santri pesantren Tebuireng pun juga belajar pencak silat.

Pada awalnya Dusun Tebuireng merupakan sarang maksiat  dan kejahatan, di mana terjadi banyak kriminalitas, perampokan, pencurian, bahkan pembunuhan. Bersama sang istri, Nyai Khadijah, beliau merintis dakwah Islamiyah sekaligus memulai hidup baru dengan bertempat tinggal di darah Tebuireng. Sengaja beliau memilih daerah tersebut, karena orang-orang di sekitar tersebut amat jauh dari agama. Kyai Hasyim berpikiran bahwa dakwah harus menyentuh masyarakat yang masih jauh dari pesan Islam.

Kyai Hasyim dalam merintis perjuangannya menghadapi banyak hambatan, tantangan dan ancaman. Awalnya jumlah santri hanya dua orang, dan beberapa bulan kemudian baru bertambah menjadi 28 orang. Tidak jarang para santri jarang tidur, untuk berjaga-jaga pada waktu malam, karena tempat tinggal beliau sering diserbu para berandalan. Saat itu sering terjadi “perang kecil” antara santri dan penduduk yang tak suka kepada mereka. Karena itu, dengan bantuan lima orang kyai dari Cirebon, Kyai Hasyim dan para santri diajari bagaimana cara memukul, menendang, membanting dan melumpuhkan lawan yang menggunakan senjata tajam. Mereka juga diajari bertarung dengan tangan kosong.

Sejak berlatih bela diri itulah Kyai Hasyim dan para santri menjadi lebih berani, bahkan jika harus meronda sendirian di malam hari untuk menjaga lingkungan pesantren. Para pengacau di sekitar pesantren pun mulai sadar bahwa pesantren Tebuireng tak bisa lagi mereka perlakukan seenaknya. Sejak itu pulalah pesantren di Tebuireng mulai aman, karena mereka tak lagi berani mengganggu Kyai Hasyim dan para santri.

Akhirnya, satu per satu perampok itu angkat kaki. Lokasi pelacuran dan judi pun digusur. Dan pesantren Tebuireng mulai kebanjiran santri hingga mencapai 200 orang. Dengan keberhasilan perkembangan pesantren tersebut, Kyai Hasyim kemudian dikenal sebagai ulama yang sangat disegani, hingga kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926.

Pada tahun 1945, Kyai Hasyim dan para ulama NU di Jawa Timur mengeluarkan resolusi jihad, yang mewajibkan bagi umat Islam, terutama NU, untuk mengangkat senjata melawan penjajahan Belanda dan sekutunya yang ingin berkuasa kembali di Indonesia. Kewajiban ini merupakan perang suci (jihad), yang berlaku bagi setiap muslim yang tinggal radius 94 kilometer. Sedangkan mereka yang berada di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material bagi mereka yang berjuang.

http://media.kompasiana.com/buku/2014/02/02/kh-ahmad-dahlan-hobi-main-bola-kh-hasyim-asyari-suka-pencak-silat-632279.html

Muhammadiyah-NU: Perbedaankah atau Perpecahan?


Muhammadiyah-NU: Perbedaankah atau Perpecahan?

Gusdur.net, Jum'at, 16 Agustus 2002
Oleh : KH. Abdurrahman Wahid
Ketika Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912, KH. M. Hasyim Asy\'ari dari Tebuireng, Jombang, menanyakan siapa pendirinya. Mendengar jawaban KH. Ahmad Dahlan, beliau ganti bertanya, adakah orang itu santri yang bersama beliau mengaji pada KH. Sholeh Darat (Semarang)? Ketika memperoleh kepastian bahwa KH. Ahmad Dahlan itu adalah orang yang dimaksud tersebut, beliau mengatakan tentu Muhammadiyah organisasi yang baik, karena tokoh pendiri tersebut adalah orang baik. Hal ini dapat kita benarkan, kalau kita ikuti sejarah Muhammadiyah. Tekanan pada pendidikan, kesehatan dan kegiatan-kegiatan sosial menunjukkan hal itu dengan nyata.

Hal ini jugalah yang tampak dari pergaulan KH. M Bisri Syansuri, ketika beliau menjadi anggota PBNU, dan praktis menguasai Majlis-Majlis Hukum Agama (Majaalis al-Figh) --sebelum beliau membawa pendapat-pendapatnya ke forum tersebut, beliau selalu pergi ke Yogyakarta, untuk memperdebatkannya dengan KH. Hadjid dari Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Terkadang mereka bisa berdebat selama tiga hari berturut-turut dan terkadang pula mereka bersama pergi ke rumah KH. Adzkiya di Kroya (Pak Tua Ir. Musthofa Zuhad, dari PBNU sekarang) untuk maksud yang sama. Baru setelah itu, KH. M. Bisri Syansuri memaparkan \"pendapatnya\" kepada forum-forum di atas, yaitu setelah melalui \"uji-coba\" dengan kedua orang tersebut. Kelihatan sekali, antara mereka tidak ada jarak yang harus dijembatani, karena perbedaan pendapat di antara mereka adalah hal yang biasa, seperti perbedaan pendapat dengan iparnya, KH. A. Wahab Chasbulah.

Penulis pernah tinggal selama tiga tahun (1954-1957) di rumah KH. M. Djunaidi di Kauman, Yogyakarta. Di tempat itu, penulis sering melihatnya berdebat sangat lama tentang soal-soal figh, dengan tokoh NU KH. Ali Ma\'sum dari Pondok Pesantren Krapyak, yang belakangan menjadi Rais ‘Am PBNU. Padahal, induk semang penulis, KH. M. Djunaidi itu belakangan menjadi anggota Majlis Tarjih (Dewan Agama) PP. Muhammadiyah. Di sini, tampak jelas bagi penulis, adanya keakraban antara tokoh-tokoh puncak NU dan Muhammadiyah tersebut.

*****

Pertanyaan utamanya adalah, kita melihat keakraban tersebutkah dalam menilai hubungan Muhammadiyah dan NU, atau justru sebaliknya? Justru yang kita lihat sehari-hari, sikap fanatik baik dari orang-orang NU maupun dari orang-orang Muhammadiyah sendiri, hingga terkadang tampak sebagai pertentangan dan perpecahan, bukannya sebagai perbedaan. Ini sangat diperlukan, karena tanpa memperoleh jawaban yang tepat, perpecahan dalam tubuh kedua organisasi Islam terbesar di negeri kita itu tampak semakin menjadi-jadi. Tentu ini tidak kita inginkan, sehingga kalau memang benar-benar keduanya berpecah dan bertentangan, hendaknya dapat diarahkan kepada perbedaan saja. Ini adalah proses pendidikan yang berlangsung lama, namun tak dapat terhindarkan.

Salah satu sebab mengapa tampak yang terjadi adalah pertentangan, dan bukannya perbedaan, adalah akibat tekanan kedua-duanya atas institusi atau lembaga, dalam hal ini kedua organisasi tersebut. Tekanan pada kelembagaan, membawakan keharusan untuk mempertahankan kepentingan/interest kedua perkumpulan tersebut, yang masing-masing bertabrakan satu sama lain. Pihak sendiri harus dimenangkan, dan pihak lain harus di\"kalah\"kan. Jadilah seolah-olah mereka saling berhadapan, padahal dalam kenyataan mereka menganut corak kehidupan yang sama yaitu mementingkan akhlak/moralitas/etika. Terkenal dengan ucapan H. Munawir Sadzali, mantan menteri agama kita, bahwa di Muhammadiyah ada orang NU bernama Ahmad Azhar Basyir (Ketua Umum PP. Muhammadiyah saat itu, dan di lingkungan PBNU ada orang Muhammadiyah bernama Abdurrahman Wahid), yang membawakan pembaharuan-pembaharuan.

Bahwa kedua perkumpulan itu memiliki persamaan-persamaan penting, jarang sekali diingat. Pertama, kedua-duanya mengacu pada tujuan kemaslahatan umat, yang dalam literatur kita umumnya disebut kesejahteraan rakyat. Pembukaan UUD kita, yang dibuat antara lain oleh tokoh-tokoh kedua organisasi itu, merumuskan hal itu sebagai masyarakat adil dan makmur. Jadi, tak benarlah ungkapan salah seorang Kyai NU; al-hamdulilah, keluarga besar kita semuanya beraqidah Islam, minimal Muhammadiyah. Menanggapi hal ini, Ahmad Azhar Basyir memberikan komentar, di Muhammadiyah juga banyak orang yang menganggap NU minimal.

*****

Aspek lain yang jarang dilihat orang, yakni perlakuan Keraton Hamengkubuanan di Yogyakarta. Keraton tersebut \"merangkul\" kedua-duannya, dengan menyantuni NU (melalui status \"Masjid Pethok Nagari\" di Mlangi dan Wonokromo) serta tetap membiarkan KH. Ahmad Dahlan menjadi penghulu keraton setelah mengadakan pembaharuan dengan mendirikan Muhammadiyah. Jadi, baik tradisionalisme maupun pembaharuan sama-sama memperoleh santunan dari keraton, yang sekarang bertambah dengan kebiasaan \"semaan\" al-Qur\'an yang dahulu dirintis oleh alm. Kyai Hamim Jazuli (Gus Mik).

Kedua hal yang berbeda itu, yakni tradisionalisme Nu dan pembaharuan Muhammadiyah, seringkali melupakan kita. Dari sesuatu yang sangat penting: Islamisasi terbatas/limited Islamization --yang, dirintis Sultan Agung Hanyokro Kusumo, dengan pemakaian hukum-hukum nikah figh sebagai \"peraturan\" di keraton dan pemakaian bulan Muharom sebagai permulaan tahun Saka, ini dilanjutkan oleh pimpinan keraton.

Tentunya, ini harus memperhitungkan kenyataan bahwa --untuk beberapa dasa warsa, cara kehidupan \"sekuler\" yang tidak mau tahu dengan ajaran agama sempat menerapkan dominasinya atas masyarakat kita, termasuk keraton.

Dengan demikian jelaslah, bahwa keraton Hamengkubuanan memperlakukan Muhammadiyah dan NU, sebagai sebuah budaya, dengan tidak mementingkan institusinya. Ini adalah tindakan yang sangat bijaksana, yang sudah sepatutnya ditiru dan dicontoh oleh para pimpinan kedua organisasi tersebut.

Dengan ungkapan lain, baik tradisionalisme NU maupun pembaharuan Muhammadiyah haruslah diukur secara budaya, dan bukannya secara kelembagaan. Bukankah kini anak-anak muda kedua belah pihak sering dihadapkan kepada tantangan budaya modern yang menjauhkan mereka dari akar-akar budaya masa lampau? Bukankah ini melupakan kita dari kenyataan adanya orang-orang Muhammadinu, yang seringkali sudah tidak melihat relevansi pemisahan keduannya. Kalau saja kita menjadi dewasa dalam hal ini, kita akan melihat keadaan NU dan Muhammadiyah, bukannya pertentangan dan perpecahan antara keduanya.
Paso, 10/3/2002
*Penulis adalah ketua dewan syura DPP PKB

http://www.gusdur.net/pemikiran/Detail/?id=26/hl=id/Muhammadiyah-NU_Perbedaankah_Atau_Perpecahan
http://muhammadiyahstudies.blogspot.com/2010/12/muhammadiyah-nu-perbedaankah-atau.html

Belajar dari Keintiman Tokoh Muhammadiyah dan NU


KH. Idham Khalid dan Buya Hamka